Sekilas, ia hanyalah sebuah kepulauan
yang tandus dan panas. Siapa sangka di balik ‘kegarangan’-nya itu Madura
menyimpan pesona alam penuh keelokan ?
Tandus dan panas. Sepertinya itulah kesan pertama
yang didapat para pelancong, begitu mendengar nama Pulau Madura disebut.
Anggapan ini berlaku terutama bagi warga luar daerah yang belum pernah datang ke
sana.
![]() |
| Kerapan Sapi Madura |
hijau dan panorama alam yang elok dipandang mata.
Anggapan tersebut tidak seutuhnya benar. Pulau terbesar di Provinsi Jawa Timur ini memang tandus dan panas. Namun, ini tak berarti Pulau Madura tidak memiliki potensi wisata yang mempesona. Bila tak percaya, datanglah ke daerah paling timur ”Pulau Garam’‘, tepatnyaKabupaten Sumenep.
Daerah ini memiliki ragam objek wisata, mulai pantai, kepulauan, keraton, masjid peninggalan hingga sejumlah situs makam raja-raja Madura masa silam.
“Hanya saja potensi wisata di Sumenep ini belum terpublikasikan secara memadai. Sehingga di benak masyarakat luar, khususnya yang belum pernah datang ke sana, Pulau Madura hanyalah gugusan tanah yang gersang dan panas. Hingga pelancong enggan datang ke sana,” kata Kabag Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Jatim, Imam Tukiranto.
Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah 2.000 kilometer persegi yang terbagi dua bagian, daratan seluas 1.147 kilometer persegi (17 kecamatan) dan kepulauan seluas 853 kilometer persegi. Jumlah pulau yang dimiliki sebanyak 76 buah dan luas perairan sekitar 50.000
kilometer persegi. Yang terakhir inilah yang menjadi primadona wisata Sumenep. Pulau-pulau kecil itu, bak untaian mutiara, merekat Indonesia menjadi negara kepulauan nan indah.
Deretan pulau di timur Pulau Madura
bak gadis berbanjar menari ini disebut Kepulauan Kangean. Julukan tersebut
karena barisan pulau yang paling besar adalah Kangean. Selain itu masih ada
lagi Pulau Sapudi, Raas, Puteran, Genteng, Gili Iyang, dan Pulau Raja.
Pemerintah
Kabupaten Sumenep menyebut kawasan kepulauan tersebut sebagai objek wisata Island Resort.
Objek wisata itu menawarkan birunya laut yang jernih, lekuk pantai dan terumbu karang yang sudah mati menjadi batuan, serta kesunyian yang menenangkan. Semua itu bisa dinikmati dengan biaya relatif murah. Menjelajah kepulauan tersebut tidaklah sulit. Karena puluhan kapal
angkutan penumpang bisa mengantarkan kaum pelancong ke sana setiap saat. Kapal dan perahu itu bisa kita dapatkan di Pelabuhan Kalianget, sekitar 12 kilometer arah timur Kota Sumenep.
Kapal feri dari Kalianget menuju Pulau Sapudi dan Kangean, misalnya, dalam sehari terdapat empat kapal yang beroperasi pulang pergi (PP). Sekali naik tarifnya hanya Rp 5.000 per orang. Namun, jika pelancong akan mendatangi banyak kepulauan di sana, mereka bisa menyewa kapal sendiri. Tentu tarif menyewa kapal itu cukup besar, bisa Rp 1 juta sekali layar.
“Tapi kebanyakan pelancong suka naik kapal feri. Selain murah biayanya, juga bisa bercengkrama dengan penduduk kepulauan. Justru bisa bercengkrama dengan warga kepulauan inilah yang bisa mendatangkan keunikan tersendiri bagi pelancong,” kata seorang petugas pelabuhan di Kalianget.
Dari Pelabuhan Kalianget, pulau-pulau yang menjadi tujuan kaum wistawan itu hanya cukup ditempuh empat jam pergi-pulang. Pada umumnya para pelancong tidak hanya sekadar menginjakkan kaki semata di pulau-pulau tersebut. Mereka acap melihat geliat warga kepulauan, panorama alam, dan mencari buah tangan. Yang unik dan menarik, buah tangan dari Pulau Kangean misalnya, adalah ayam bekisar dan ukiran kayu jati.
Kabupaten Sumenep menyebut kawasan kepulauan tersebut sebagai objek wisata Island Resort.
Objek wisata itu menawarkan birunya laut yang jernih, lekuk pantai dan terumbu karang yang sudah mati menjadi batuan, serta kesunyian yang menenangkan. Semua itu bisa dinikmati dengan biaya relatif murah. Menjelajah kepulauan tersebut tidaklah sulit. Karena puluhan kapal
angkutan penumpang bisa mengantarkan kaum pelancong ke sana setiap saat. Kapal dan perahu itu bisa kita dapatkan di Pelabuhan Kalianget, sekitar 12 kilometer arah timur Kota Sumenep.
Kapal feri dari Kalianget menuju Pulau Sapudi dan Kangean, misalnya, dalam sehari terdapat empat kapal yang beroperasi pulang pergi (PP). Sekali naik tarifnya hanya Rp 5.000 per orang. Namun, jika pelancong akan mendatangi banyak kepulauan di sana, mereka bisa menyewa kapal sendiri. Tentu tarif menyewa kapal itu cukup besar, bisa Rp 1 juta sekali layar.
“Tapi kebanyakan pelancong suka naik kapal feri. Selain murah biayanya, juga bisa bercengkrama dengan penduduk kepulauan. Justru bisa bercengkrama dengan warga kepulauan inilah yang bisa mendatangkan keunikan tersendiri bagi pelancong,” kata seorang petugas pelabuhan di Kalianget.
Dari Pelabuhan Kalianget, pulau-pulau yang menjadi tujuan kaum wistawan itu hanya cukup ditempuh empat jam pergi-pulang. Pada umumnya para pelancong tidak hanya sekadar menginjakkan kaki semata di pulau-pulau tersebut. Mereka acap melihat geliat warga kepulauan, panorama alam, dan mencari buah tangan. Yang unik dan menarik, buah tangan dari Pulau Kangean misalnya, adalah ayam bekisar dan ukiran kayu jati.
Ayam bekisar adalah hasil penyilangan
antara ayam hutan (jantan) dan ayam kampung (betina). Jenis hasil penyilangan
memiliki keturunan yang menarik. Tubuhnya lebih besar dari ukuran ayam kampung
dan warna kulit hitam kebiru-biruan, malah kadang kemerah-merahan. Di bulu pada
lehernya terdapat lurik warna hijau berpadu kekuning-kuningan. Eksotik.
Keelokannya fauna inilah yang kemudian mendorongnya ditetapkan sebagai maskot Pemerintah Provinsi Jatim. Harga seekor ayam bekisar di Kangean hanya Rp 25-35 ribu. Namun bila ayam itu sudah berada di Surabaya, harganya pun bisa mencapai Rp 100 ribu lebih.
“Biasanya pelancong suka datang di Kangean membawa oleh-oleh ayam bekisar,” masih papar petugas pelabuhan. Namun mereka lebih banyak menikmati panorama alam pulau-pulau tersebut.
Di Taman Laut Pulau Mamburit, pelancong bisa menikmati taman laut yang beragam dan masih asli. Di tempat ini, wisatawan yang berhobi menyelam bisa sepuasnya menikmati dasar laut. Dengan dukungan angin yang cukup kuat dari kisaran Laut Jawa, pantai ini secara kontinyu dipergunakan wind surfing berskala nasional maupun internasional.
lehernya terdapat lurik warna hijau berpadu kekuning-kuningan. Eksotik.
Keelokannya fauna inilah yang kemudian mendorongnya ditetapkan sebagai maskot Pemerintah Provinsi Jatim. Harga seekor ayam bekisar di Kangean hanya Rp 25-35 ribu. Namun bila ayam itu sudah berada di Surabaya, harganya pun bisa mencapai Rp 100 ribu lebih.
“Biasanya pelancong suka datang di Kangean membawa oleh-oleh ayam bekisar,” masih papar petugas pelabuhan. Namun mereka lebih banyak menikmati panorama alam pulau-pulau tersebut.
Di Taman Laut Pulau Mamburit, pelancong bisa menikmati taman laut yang beragam dan masih asli. Di tempat ini, wisatawan yang berhobi menyelam bisa sepuasnya menikmati dasar laut. Dengan dukungan angin yang cukup kuat dari kisaran Laut Jawa, pantai ini secara kontinyu dipergunakan wind surfing berskala nasional maupun internasional.
Panorama serupa juga terdapat di
Taman Laut Pulau Gililabak. Pulau Gililabak terletak di sebelah tenggara
Pelabuhan Kalianget, di antara Pulau Giligenting dan Pulau Puteran. Perjalanan
menuju pulau ini bisa ditempuh sekitar satu jam, dengan memakai perahu motor
melewati sela-sela bagan penangkapan ikan. Taman laut ini juga acap dijadikan
ajang olahraga bahari, selam dasar (snorkling/diving) dan selam profesional
(scuba diving).
Berwisata di Sumenep tentu tidak bisa ditempuh hanya sehari. Sebab pelancong harus menyusuri laut menuju deretan kepulauan ini. Setelah lelah naik kapal menyusuri kepulauan, pelancong bisa beristirahat di sejumlah penginapan dan hotel di Kota Sumenep. Kemudian bisa
melanjutkan menikmati wisata darat, yakni Masjid Agung, Keraton (keduanya berada dalam kota), situs Asta Tinggi, Pantai Slopeng, dan Pantai Lombang.
Berwisata di Sumenep tentu tidak bisa ditempuh hanya sehari. Sebab pelancong harus menyusuri laut menuju deretan kepulauan ini. Setelah lelah naik kapal menyusuri kepulauan, pelancong bisa beristirahat di sejumlah penginapan dan hotel di Kota Sumenep. Kemudian bisa
melanjutkan menikmati wisata darat, yakni Masjid Agung, Keraton (keduanya berada dalam kota), situs Asta Tinggi, Pantai Slopeng, dan Pantai Lombang.
![]() |
| Pantai Lombang |
![]() |
| Pantai Slopeng |
pelancong akan disapa oleh gugusan gunung kapur dan tanah merah yang tandus.
Di hari libur objek wisata ini didatangi banyak pengunjung. Ia memiliki hamparan pasir putih sepanjang 12 kilometer. Pada pinggiran hamparan pasir berhiaskan tumbuhan pohon `cemara udang` sebagai tanaman yang hanya ada di Indonesia dan Cina, sehingga membuat teduh dan nyaman pantai itu. Semua objek wisata di Sumenep ini terbilang masih alami. Belum mendapat sentuhan secara optimal sebagai tempat wisata.
Peninggalan
Kraton di Pulau Garam
![]() |
| Labang Mesem Keraton Sumenep |
Ada puluhan lainnya, di antaranya di Sumenep, Madura, berupa peninggalan kerajaan silam itu.
Peninggalan kraton Sumenep sampai sekarang malah masih utuh. Belum ada sentuhan renovasi sama sekali, selain tambahan bangunan benteng oleh pemerintahan Belanda yang terdapat di depan kraton. Sesuai silsilah sejarah, kraton yang berdiri megah dengan sentuhan arsitektur paduan Jawa dan Cina ini dibangun oleh pemerintahan Panembahan Sumolo yang bergelar Tumenggung Ario Notokusumo I pada tahun 1762 silam.
Meski arsitektur bangunan merupakan perpaduan Jawa-Cina, namun tak sedikit tekstur ornamennya dipengaruhi oleh gaya Islam dan Eropa.
“Kata orang-orang Madura dahulu, pembangunan kraton ini mendatangkan tenaga
arsitektur dari Cina,” jelas Ahmad, petugas kraton.
Lihat saja pada pintu gerbang masuk keraton. Di atas genting bangunan bertingkat itu terdapat simbol bunga cempaka dan meliuk bak naga, khas bangunan Cina. Sedangkan pada bagian bawah terdapat bangunan pos penjagaan yang mirip kuil saolin. Pintu gerbang ini disebut Labang Mesem.
Di dalam kraton terdapat peninggalan sejarah seperti pendopo agung, kantor konang, bekas kraton Raden Ayu Tirto Negoro yang saat ini dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kuno (museum). Selain itu, di sebelah berat kraton, terdapat pemandian putri-putri raja dahulu yang hingga kini masih memiliki sumber mata air.
Sedangkan di samping kiri terdapat sebuah bangunan, yang konon sebagai tempat kerja raja-raja Sumenep, kini terpajang beragam benda-benda kuno yang asli buatan moyang setempat. Di antaranya keris, tombak, pedang, clurit, baju perang dari rajutan besi, Alquran ukuran besar dan kecil.
Sedangkan tak jauh dari kraton, dengan menyeberang alun-alun, kita bisa menyaksikan bangunan yang cukup megah. Bangunan itu tidak lain adalah Masjid Agung yang dulu dikenal dengan nama Masjid Jami’. Masjid ini berdiri setelah pembangunan kraton, tepatnya 1763, yang juga dilakukan oleh Panembahan Sumolo.
![]() |
Portugis. Masjid Agung Sumenep merupakan salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia dengan corak arsitektur khas.














0 komentar:
Posting Komentar