Warga Sumenep, Madura, Jawa Timur, tak hanya akrab dengan garam. Ternyata mereka juga membudidayakan rumput laut. Bahkan belakangan ini, Sumenep menjadi pengekspor rumput laut terbesar di Indonesia. Dari total lima ton kebutuhan rumput laut di Tanah Air, tiga ton dipasok dari Sumenep. Hal ini dikarenakan sejumlah daerah di Sumenep seperti Kecamatan Bluto, Tango, Sapudi, Bungkek, dan Sapeken, cocok ditanami rumput laut. Selain Sumenep, penghasil rumput laut kualitas ekspor di Tanah Air adalah Pasuruan, Jawa Timur, Binjai, Sumbawa, Maros, dan Poso.
Untuk membudidayakan rumput laut, para petani Sumenep hanya perlu menyiapkan rakit dari bambu berukuran 8X10 meter. Pada rakit tersebut diikatkan rumput laut dengan tali yang dibentangkan dari satu sisi ke sisi lain. Selanjutnya, bentangan rumput laut dibiarkan sekitar 45 hari sebelum akhirnya dipanen.
Setiap rakit dapat menghasilkan satu ton rumput laut basah atau sekitar 200 kilogram setelah dijemur. Setiap petani sedikitnya memiliki 10 rakit. Dengan harga rumput laut per kilogram Rp 4.000, dalam sekali panen mereka dapat meraup penghasilan kotor sekitar Rp 8 juta.
Sekadar diketahui, Indonesia mengekspor komoditi ini sekitar 26 ribu ton per tahun. Kendati demikian, diharapkan Indonesia tak lagi mengekspor rumput laut setengah jadi. Pasalnya, sumber daya manusia yang ada di sini sudah mampu mengolah rumput laut hingga menjadi produk jadi, seperti kosmetik atau makanan.
Untuk membudidayakan rumput laut, para petani Sumenep hanya perlu menyiapkan rakit dari bambu berukuran 8X10 meter. Pada rakit tersebut diikatkan rumput laut dengan tali yang dibentangkan dari satu sisi ke sisi lain. Selanjutnya, bentangan rumput laut dibiarkan sekitar 45 hari sebelum akhirnya dipanen.
Setiap rakit dapat menghasilkan satu ton rumput laut basah atau sekitar 200 kilogram setelah dijemur. Setiap petani sedikitnya memiliki 10 rakit. Dengan harga rumput laut per kilogram Rp 4.000, dalam sekali panen mereka dapat meraup penghasilan kotor sekitar Rp 8 juta.
Sekadar diketahui, Indonesia mengekspor komoditi ini sekitar 26 ribu ton per tahun. Kendati demikian, diharapkan Indonesia tak lagi mengekspor rumput laut setengah jadi. Pasalnya, sumber daya manusia yang ada di sini sudah mampu mengolah rumput laut hingga menjadi produk jadi, seperti kosmetik atau makanan.








0 komentar:
Posting Komentar